Fight Never Ending napas kehidupan

31 Jul 2011

Bayangkan apa jadinya kalau hidup didunia ini tanpa perjuangan. Dari hal sekecil apapun pasti kita memerlukan perjuangan bukan?

Saya sangat tertarik dengan tagline blognya mba Anny Berta yang sedang berulang tahun yang ke 3 ini, sebab ini adalah moto hidupnya yang selalu digaungkan dalam hatinya disana penuh makna terdalam dari arti kata yang sebenarnya.

Sama juga seperti saya Fight Never Ending merupakan alunan ombak dan gelombang lautan yang tak pernah senyap dengan deru badai nya menghempaskan pantai dan perahu kehidupan yang tercipta untuk sebuah kehidupan saya, kenapa demikian? Karena sejak SD saya sudah harus bertahan melawan kencangnya nafas kehidupan.

manakala sakit ayah saya tak kunjung sembuh, kakak saya juga demikian, mana mungkin sembuh penyakitnya karena berobat di rumah dukun tak mampu untuk membawa ayah dan kakak saya berobat ke rumah sakit karena jabatan kemiskinan keluarga saya pada waktu itu.

masih syukur tuhan memberikan kesehatan kepada ibu saya sehingga ibu saya bisa mencari uang dengan menjahit pakaian tetangga dan membuat kue, tanpa harus malu dengan teman-teman sekolah, saya membantu ibu menjajakan kue di sekolah, Alhamdulillah kue bikinan ibu setiap harinya laku terjual, dari uang hasil jahitan pakaian dan jualan kue inilah untuk biaya sekolah saya dan membiayai kehidupan keluarga kami.

Setelah saya menamatkan SD ayah saya berangsur sembuh, tapi sayang kakak saya meninggal dunia, ibu masih kelihatan sehat dan tabah dan ibu bersekeras untuk melanjutkan saya kesekolah SMP meskipun dengan keterbatasan uang yang ibu miliki pada saat itu. Tidak sampai menaiki ke kelas dua saya harus berpisah dengan ayah dan ibu saya karena harus mengikuti paman saya dan tinggal bersamanya, sepulang sekolah saya harus membantu bibi mencuci pakaian, membersih rumah, mencuci piring dan menjaga anaknya layaknya seorang pembantu rumahtangga, tidak seperti anak se usia saya yang asyik bermain dan bermain, disinilah perjuangan itu demi sebuah cita-cita rela melakukan apa saja.

Begitulah hari-hari terus dijalani hingga saya bisa menamatkan sekolah SMP kemudian saya melanjutkan ke sekolah SMA yang masih dibiayai oleh paman saya, rutinitas harian saya masih tidak berubah sebagai pembantu rumah tangga. Pada saat saya duduk di kelas dua SMA, ibu saya meninggal dunia, saya sangat sedih sekali kehilangan seorang ibu yang telah berjasa dan berjuang tanpa henti Fight Never Ending demi menghidupi kami selama ini.

Tak berhenti sampai disitu setelah saya menamatkan SMA, paman tidak mampu lagi membiayai saya melanjutkan kuliah, lalu saya mencoba melamar pekerjaan di banyak perusahaan, lagi-lagi berhadapan dengan kegagalan kegagalan, inilah yang saya maksudkan deru badai itu. Jangan pernah lelah untuk mencoba kata-kata itulah yang selalu menemani hari-hari saya.

Setelah setahun mencoba melamar, Alhamdulillah ada satu perusahan yang menerima saya bekerja, gaji pertama dan seterusnya saya sisihkan untuk membantu ayah dan sebagian lagi untuk biaya kuliah saya, sehingga setelah saya menamatkan S1 saya berhenti bekerja diperusahan tersebut dan melamar lagi di suatu kabupaten dan Alhamdulillah diterima sebagai pegawai negeri sampai sekarang. walaupun sekarang sudah mempunyai isteri, pekerjaan sebagai pembantu masih tetap saya lakoni.

sumber google

sumber google

Hidup memang penuh perjuangan dan pengorbanan, ketika perahu belayar terimalah konsekwensi untuk diantam gelombang dan badai, karena kekuatan Fight Never Ending tidak harus dihindari tapi dicari, karena selagi masih ada nafas kehidupan selama itupula perjuangan itu ada.
sudah bisa dipastikan bahwa sesuatu yang diperoleh lewat sebuah perjuangan hidup yang keras dan berat maka sesuatu itu pasti akan dijaga, dirawat dan dihargai sangat tinggi.

Tulisan ini diikut sertakan dalam kompetisi fight never ending dalam rangka ultah blog Fight Never Ending ke tiga.


TAGS Fight Never Ending napas kehidupan perjuangan ulang tahun blognya mba anny berta


-

Author

Follow Me